JAKARTA | UBN Newsroom — Rabu, 6 Rabiul Awal 1448 H / 19 Agustus 2026 M.
Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an digelar secara offline di Maqdisi (Masjid Baitul Maqdis Indonesia–AQL), Jalan Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026). Dalam kajian tersebut, KH. Bachtiar Nasir mengajak umat untuk merespons bencana gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan solidaritas dan kepedulian nyata.
Dalam nasihatnya, KH. Bachtiar Nasir mengingatkan bahwa momentum bencana menjelang peringatan kemerdekaan bukan hanya menguji masyarakat yang terdampak, tetapi juga menguji kemerdekaan jiwa dan solidaritas masyarakat luas.
Bencana Flores Menjadi Ujian Solidaritas
KH. Bachtiar Nasir mengajak masyarakat membagikan informasi dan turut membantu saudara-saudara yang terdampak bencana di Flores.
“Silakan dibagikan kalau mau ada yang mau perlu dibagikan untuk bencana Flores. Ini panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari jelang kemerdekaan,” ujarnya.
Menurutnya, yang sedang diuji bukan hanya mereka yang berada di wilayah bencana. Masyarakat yang berada jauh dari lokasi bencana juga sedang diuji melalui kepedulian, solidaritas, serta kemampuan melepaskan diri dari egoisme.
“Yang diuji di sini sebetulnya bukan mereka, adalah kemerdekaan jiwa kita dari kebahilan, solidaritas kita dari egoisme,” kata KH. Bachtiar.
Ia juga mengingatkan bahwa bencana seharusnya menjadi momentum introspeksi bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para pemimpin.

“Sekaligus juga teguran kepada para pemimpin bangsa bahwa ada teguran alam akibat perbuatan-perbuatan kita pada hari ini yang kita harus meresponsnya dengan cara yang jujur, cepat, dan jangan membutakan diri,” tuturnya.
Jangan Menunggu Lapang untuk Berbagi
KH. Bachtiar Nasir menekankan agar masyarakat tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan untuk menunda berbagi.
“Bagi yang ingin ikut berbagi, jangan menunggu lapang. Sekali lagi, pilih kesulitanmu,” ujarnya.
Menurutnya, berbagi justru memiliki nilai besar ketika dilakukan dalam kondisi seseorang juga menghadapi kesulitan.
“Berbagi itu di kala kita sedang lapang maupun kita dalam keadaan sempit. Karena kalau kita dalam keadaan sempit lalu kita berbagi, di situlah dua kelapangan akan dibuka,” katanya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan kondisi para korban yang sedang menghadapi ketakutan, kedinginan, kegelapan, kelaparan, dan kehausan sebagai momentum untuk mengambil bagian dalam membantu sesama.
Mengambil Jalan Mendaki yang Sukar
Dalam nasihatnya, KH. Bachtiar Nasir mengingatkan pesan Al-Qur’an mengenai “jalan mendaki lagi sukar” sebagai gambaran amal yang membutuhkan pengorbanan.
Allah SWT berfirman:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ١١ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ١٤
“Maka tidakkah dia menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan.”
(QS. Al-Balad: 11–14)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian dan pengorbanan memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim, terutama ketika berhadapan dengan saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan.

Fast Response untuk Kemanusiaan
KH. Bachtiar Nasir juga mendorong lahirnya respons cepat terhadap kondisi bencana. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak menunggu kondisi ideal untuk bergerak membantu.
“Saya juga nggak nunggu lapang, langsung berangkat. Hari itu yang siap berangkat, berangkat. Yang nggak siap, tinggalin,” ujarnya.
Menurutnya, dalam situasi bencana dibutuhkan orang-orang yang mampu memberikan respons cepat untuk menyambut seruan kemanusiaan.
“Kita membutuhkan orang yang fast response demi menyambut seruan Allah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tetap diberikan tanpa melihat latar belakang agama masyarakat yang terdampak.
“Walaupun NTT mayoritas non-Muslim, kita berangkat ke sana,” ujarnya.
Masjid Menjadi Posko dan Pusat Pelayanan
Dalam pelaksanaan bantuan di lapangan, KH. Bachtiar Nasir menjelaskan bahwa masjid biasanya menjadi salah satu pilihan lokasi posko. Langkah tersebut dilakukan sekaligus untuk menjaga kenyamanan tim dan memastikan fasilitas yang dibangun dapat memberikan manfaat berkelanjutan.
“Biasanya kita menjadikan masjid sebagai posko, sehingga semua yang kita keluarkan di posko itu ketika kita tinggalkan, larinya ke masjid, termasuk dapur umum,” jelasnya.
Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek, tetapi juga diupayakan meninggalkan manfaat bagi masyarakat dan fasilitas keagamaan setempat.
Perspektif UBN Newsroom
Kemerdekaan Jiwa dalam Solidaritas
Bencana mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan manusia membebaskan dirinya dari egoisme, kebakhilan, dan ketidakpedulian.
Islam mengajarkan bahwa kesulitan yang dialami seseorang merupakan kesempatan bagi orang lain untuk menghadirkan pertolongan. Berbagi dalam keadaan lapang adalah kebaikan, tetapi berbagi ketika diri sendiri berada dalam keterbatasan menunjukkan pengorbanan dan solidaritas yang lebih dalam.
Respons terhadap bencana juga membutuhkan kecepatan, kejujuran, ketepatan sasaran, serta penghormatan terhadap seluruh masyarakat terdampak tanpa membedakan latar belakang agama.
Karena itu, momentum bencana Flores semestinya menjadi ruang muhasabah sekaligus penggerak solidaritas. Ketika saudara-saudara kita menghadapi ketakutan, kelaparan, kedinginan, dan kehilangan tempat tinggal, kepedulian tidak seharusnya menunggu sampai kita merasa benar-benar lapang.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment