Laporan INSS juga menunjukkan meningkatnya sikap kritis di kalangan Yahudi Amerika. Sekitar 55–60 persen menolak opsi militer terkait Iran dan 63 persen lebih memilih jalur diplomasi. Selain itu, sekitar 30 persen—terutama generasi muda—menunjukkan simpati lebih besar kepada Palestina. Dukungan terhadap pembatasan bantuan kepada Israel pun mengalami peningkatan.
Dalam perspektif komunikasi krisis, kondisi ini memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Teori manajemen reputasi menegaskan bahwa reputasi tidak ditentukan oleh klaim suatu negara, melainkan oleh bagaimana publik menilai tindakan dan responsnya secara konsisten dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini, publik Amerika tidak lagi sekadar menerima narasi Israel, tetapi juga menilai realitas di lapangan.
Israel terus mengusung narasi “membela diri”. Namun di sisi lain, publik menyaksikan kehancuran Gaza, tingginya korban sipil Palestina, meluasnya konflik regional, serta persepsi bahwa Israel berpotensi menyeret Amerika ke dalam konflik yang lebih besar. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Israel tidak lagi sebatas kegagalan komunikasi, melainkan telah berkembang menjadi krisis moral.
Israel tidak sedang gagal menjelaskan posisinya, tetapi gagal meyakinkan publik bahwa tindakannya selaras dengan nilai yang selama ini diklaim.

Comment