SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Internasional
Home » Pemulihan Pascabanjir Nepal Terus Berjalan, 41 Warga Setempat Memeluk Islam

Pemulihan Pascabanjir Nepal Terus Berjalan, 41 Warga Setempat Memeluk Islam

KATHMANDU | UBN Newsroom — Senin, 18 Rabiul Awal 1448 H / 31 Agustus 2026 M.

Nepal Hadapi Tantangan Besar Pascabencana

Nepal masih menghadapi pekerjaan besar untuk memulihkan wilayah yang terdampak banjir bandang pada 26 Agustus 2026. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pemulihan mencapai 4–5 miliar dolar AS atau sekitar Rp70,8 triliun hingga Rp88,5 triliun, sementara pencarian korban hilang dan penanganan dampak bencana masih terus berlangsung.

Banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser tersebut membawa batu, es, lumpur, dan puing-puing yang menerjang kawasan permukiman serta infrastruktur di sepanjang sungai pegunungan. Sedikitnya 669 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan tujuh orang di wilayah Tibet, China.

Ribuan Orang Masih Hilang

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang. Sekitar 2.426 orang berada di Nepal dan 554 lainnya berada di Kabupaten Gyirong, Tibet.

Sedikitnya 540 warga negara asing juga masuk dalam daftar orang hilang, sebagian besar merupakan peziarah Hindu dari India. Kerusakan akibat banjir mencakup rumah warga, jalan, jembatan, hingga sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.

Sejumlah jenazah yang ditemukan juga mulai mengalami pembusukan sehingga sulit dikenali. Pemerintah setempat melakukan pengambilan sampel DNA dan pemeriksaan forensik untuk membantu proses identifikasi korban.

Nepal Perkirakan Butuh Rp88 Triliun

Besarnya kerusakan membuat pemerintah Nepal memperkirakan kebutuhan dana pemulihan mencapai 4–5 miliar dolar AS. Angka tersebut setara sekitar Rp70,8 triliun hingga Rp88,5 triliun.
Pemerintah Nepal juga membuka kanal donasi resmi untuk mendukung penanganan bencana dan membantu masyarakat yang terdampak.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Bantuan Internasional Mulai Diterima

Di tengah upaya pencarian korban, Nepal akhirnya membuka akses terbatas bagi tenaga ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan.

Bantuan tersebut difokuskan pada operasi penyelamatan di terowongan, pengambilan sampel DNA, serta identifikasi jenazah. Sebelumnya, Nepal sempat menyatakan tidak akan menerima tim pencarian dan penyelamatan internasional karena menilai kemampuan dalam negeri masih mencukupi.

Keputusan tersebut kemudian berubah setelah sejumlah negara menyampaikan keprihatinan karena warga negara mereka termasuk dalam daftar orang hilang.

“Kami menerima tekanan besar dari komunitas internasional untuk mengizinkan setidaknya tim pencarian dan penyelamatan serta beberapa ahli karena warga negara mereka juga hilang dalam banjir,” kata seorang pejabat senior pemerintah.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

India dan Korea Selatan Siapkan Dukungan

India menawarkan tim penyelamat terowongan, tim medis, serta personel Pasukan Tanggap Bencana Nasional India. Pada 28 Agustus, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menyampaikan bahwa negaranya mengirimkan gelombang keempat bantuan ke Nepal.

Pengiriman tersebut turut mencakup 11 orang yang terdiri dari dokter, paramedis, dan personel penyelamat untuk mendukung operasi di terowongan.

Korea Selatan juga menawarkan bantuan tambahan. Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun meminta kerja sama pemerintah Nepal agar Tim Tanggap Cepat Korea Selatan dapat menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan.

“Kami telah mengidentifikasi tiga bidang yang membutuhkan dukungan dan sedang mencari bantuan internasional sesuai dengan kebutuhan,” kata Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal kepada The Kathmandu Post.

Tim ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan nantinya diizinkan membantu operasi penyelamatan orang-orang yang diduga masih terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air di distrik Rasuwa dan Nuwakot.

41 Warga Nepal Ucapkan Syahadat Usai Banjir Besar

Momen mengharukan terjadi di Nepal setelah banjir besar yang melanda pada 26 Agustus 2026. Sebanyak 41 warga setempat dilaporkan memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam secara sukarela.

Peristiwa tersebut terjadi di tengah masa pemulihan masyarakat Nepal pascabencana. Kabar mengenai 41 warga yang memeluk Islam menjadi bagian lain dari kisah masyarakat setempat yang tengah menjalani kehidupan setelah bencana besar yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.

Perspektif UBN Newsroom | Di Balik Musibah, Ada Hidayah dan Penguatan Iman

Bencana sering kali menghadirkan kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun, di tengah keadaan yang berat, Allah SWT juga dapat menghadirkan jalan bagi manusia untuk kembali mendekat kepada-Nya.

Di tengah proses pemulihan Nepal pascabanjir besar, sebanyak 41 warga setempat dilaporkan mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam secara sukarela. Peristiwa tersebut menjadi kisah tersendiri yang hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari dampak bencana.

Hidayah adalah kehendak Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan hidayah kepada manusia tanpa izin-Nya. Allah SWT berfirman:


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


Artinya:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Qashash [28]: 56)

Kisah tersebut juga mengingatkan bahwa seluruh proses pemulihan pada akhirnya berada dalam pertolongan Allah SWT. Manusia berikhtiar melalui pencarian korban, pelayanan kesehatan, pembangunan kembali infrastruktur, serta bantuan kemanusiaan. Namun, kemampuan manusia tetap terbatas dan pertolongan sejati datang dari Allah.

Allah SWT berfirman:


وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


Artinya:
“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 126)

Karena itu, musibah tidak semestinya hanya meninggalkan kesedihan. Bagi para penyintas, semoga masa pemulihan menjadi jalan untuk semakin menguatkan keimanan, kesabaran, dan ketawakalan kepada Allah SWT.

Bagi kita yang masih diberikan keamanan dan kesempatan menjalani kehidupan dengan tenang, kisah ini juga menjadi pengingat agar tidak lalai mensyukuri nikmat. Sebab rasa aman, kesehatan, keselamatan, dan kesempatan untuk beribadah merupakan karunia yang sewaktu-waktu dapat berubah atas kehendak-Nya.

Pada akhirnya, di balik sebuah musibah manusia mungkin melihat kehilangan. Namun di balik ketetapan Allah, selalu ada hikmah yang tidak seluruhnya mampu kita lihat. Bisa jadi, di tengah proses sebuah negeri membangun kembali kehidupan yang porak-poranda, Allah justru membuka pintu hidayah bagi sebagian hamba-Nya dan menguatkan iman mereka yang telah lebih dahulu beriman.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement