JOMBANG | UBN Newsroom — Jumat, 16 Safar 1448 H / 29 Agustus 2026 M.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya nampak terharu nyaris menitikkan air mata saat berangkulan dengan sejumlah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2021–2026 di sekitar arena Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Suasana haru dan penuh penghormatan itu terjadi setelah prosesi penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2021–2026 dalam Muktamar Ke-35 NU.
Akhirnya LPJ yang disampaikan Ketua Umum PBNU Gus Yahya tersebut diterima secara aklamasi oleh para peserta Muktamar Ke-35 NU. Penyampaian pertanggungjawaban kepengurusan PBNU selama lima tahun itu berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Ahmad, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8).

Amanah Lima Tahun Dipertanggungjawabkan
Bagi Gus Yahya, momentum tersebut bukan sekadar penyampaian laporan organisasi. Ada amanah besar yang lima tahun sebelumnya diterima, kemudian kini harus dipertanggungjawabkan di hadapan para masyayikh, kiai, dan muktamirin.
“Para masyayikh, para kiai, para muktamirin yang kami hormati, lima tahun yang lalu kami menerima amanah ini. Sekarang, kami izin untuk menyampaikan penjelasan atas segala ikhtiar yang telah kami kerjakan,” kata Gus Yahya.
Ia menyadari perjalanan PBNU selama masa khidmah 2021–2026 tidak selalu berjalan sempurna. Berbagai keputusan dan langkah organisasi diambil dalam situasi yang memiliki tantangan serta keterbatasan masing-masing.
Menurut Gus Yahya, PBNU berusaha membaca perubahan zaman, menentukan pilihan yang dianggap penting, sekaligus menjalankan berbagai ikhtiar yang dapat dilakukan untuk kepentingan jam’iyah.
Namun, ia tidak menutup mata bahwa masih terdapat sejumlah hal yang belum tuntas.
“Ada yang berhasil, ada yang belum sempurna, ada yang masih membutuhkan waktu, dan ada yang mungkin terdapat keputusan-keputusan kami yang sebetulnya kelak dinilai perlu diperbaiki,” ujarnya.
Meminta Maaf dan Bersyukur
Dari pengakuan atas segala keterbatasan itu, Gus Yahya kemudian menyampaikan permohonan maaf. Ia meminta maaf kepada NU, warga NU, serta seluruh pihak yang selama lima tahun terakhir ikut menjadi bagian dari perjalanan organisasi.
Setelah penyampaian LPJ selesai dan diterima secara aklamasi, Gus Yahya mengungkapkan rasa syukurnya. Baginya, keputusan tersebut bukan hanya menyelesaikan kewajiban administratif sebuah kepengurusan.
Lebih dari itu, penerimaan LPJ secara aklamasi dinilai menjadi gambaran adanya kebersamaan, kepercayaan, dan keikhlasan yang telah dibangun selama masa khidmah 2021–2026.
Terima Kasih kepada Pengurus dan Masyayikh
Dari forum tersebut, Gus Yahya juga tidak lupa memberikan penghormatan kepada mereka yang selama ini bekerja di berbagai tingkatan organisasi.
“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pengurus PBNU, jajaran PW, PC, PCI, hingga para kader di akar rumput,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga secara khusus disampaikan kepada para masyayikh yang selama ini memberikan keteguhan, arahan, serta bimbingan kepada jajaran PBNU.
Gus Yahya turut memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menjaga kehormatan sekaligus kemaslahatan jam’iyah.
Ia berharap setiap pengorbanan dan kerja keras yang dilakukan selama lima tahun tersebut tidak berhenti sebagai catatan organisasi, tetapi menjadi amal yang mendapatkan keberkahan.
“Semoga seluruh peluh dan dedikasi ini dicatat sebagai amal yang penuh keberkahan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,” pungkas Gus Yahya.
Gus Yahya Kembali Mencalonkan Diri
Dalam Muktamar kali ini, Gus Yahya kembali mencalonkan diri lagi untuk menjadi Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Ia menyebut pencalonannya tersebut sebagai bentuk khidmah serta kewajiban menuntaskan pengabdian kepada NU.
Ketua Steering Committee Dilarikan ke Rumah Sakit
Sementara itu di tengah keriuhan pelaksanaan Muktamar, Ketua Steering Committee (komite pengarah) Muktamar ke-35 NU, KH Ahmad Said Asrori, dilarikan ke RSUD Jombang pada Sabtu (29/8/2026). Dia diduga kelelahan setelah mengikuti serangkaian rapat dan sidang pleno muktamar.
Perspektif UBN Newsroom
Amanah dan Khidmah
Penerimaan LPJ secara aklamasi menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam mempertanggungjawabkan amanah kepengurusan. Pengakuan atas kekurangan, permohonan maaf, serta penghargaan kepada mereka yang telah berkhidmah menunjukkan bahwa kepemimpinan organisasi tidak hanya berbicara tentang pencapaian, tetapi juga tentang tanggung jawab.
Dalam kehidupan umat, amanah perlu dijalankan dengan kesungguhan, sementara perbedaan dan kekurangan harus menjadi ruang untuk melakukan perbaikan.
Berdiri di Atas Kebenaran dan Keadilan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
QS. An-Nisa [4]: 58»
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap amanah harus ditunaikan dengan tanggung jawab dan keadilan. Dalam konteks organisasi, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Allah SWT.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, kemanusiaan, dan peradaban.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment