JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1448 H / 19 September 2026 M.
PONOROGO — Seruan “Free Palestine” menggema dari Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Presiden Prabowo Subianto meneriakkan seruan pembebasan Palestina itu berulang kali di hadapan ribuan santri, alumni, ulama, pejabat, serta para duta besar negara sahabat yang menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Momen itu bermula ketika Prabowo menyapa satu per satu perwakilan negara sahabat yang hadir. Ketika nama Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattari disebut, tepuk tangan dan sorak langsung terdengar dari seluruh penjuru Balai Pertemuan Pondok Modern.
“Free Palestine!” seru Prabowo.
“Free Palestine!” jawab ribuan hadirin.
Prabowo kembali meneriakkan kalimat yang sama hingga tiga kali. Setiap seruan Presiden mendapat jawaban serentak dari hadirin yang memenuhi gedung tersebut. Kantor Berita ANTARA pada Sabtu, 19 September 2026, melaporkan Prabowo meneriakkan “Free Palestine” tiga kali pada bagian awal momen tersebut.
Selepas seruan itu, Al-Sattari bergerak menuju panggung utama. ANTARA melaporkan Dubes Palestina tersebut membawa keffiyeh untuk diberikan kepada Presiden Prabowo.
Prabowo menerima keffiyeh tersebut. Kepala Negara dan Dubes Palestina kemudian berpelukan di atas panggung di hadapan ribuan santri, alumni, serta para tamu undangan.
Keffiyeh itu kemudian dikenakan Prabowo selama melanjutkan pidatonya. Kain yang identik dengan Palestina tersebut menjadikan pesan dukungan yang semula disampaikan melalui teriakan berubah menjadi simbol visual di tengah peringatan satu abad Gontor.
ANTARA melaporkan, setelah momen tersebut Prabowo sempat menundukkan kepala dan terlihat mengusap matanya menggunakan keffiyeh yang baru dikenakannya. Laporan itu tidak menjelaskan lebih jauh kondisi Presiden ketika melakukan gestur tersebut.
Pidato kemudian berlanjut. Namun isu Palestina kembali muncul di tengah sambutan Presiden.
Prabowo sekali lagi menyerukan “Free Palestine”, kali ini sebanyak dua kali. Hadirin kembali menjawab dengan seruan yang sama. Dengan demikian, berdasarkan laporan ANTARA, seruan “Free Palestine” disampaikan Presiden sebanyak lima kali sepanjang momen tersebut: tiga kali pada bagian awal dan dua kali ketika pidato kembali berlanjut.
PRABOWO: SAYA TERINGAT SAUDARA KITA DI PALESTINA
Di balik seruan tersebut, Prabowo kemudian menjelaskan apa yang berada dalam pikirannya ketika melihat perwakilan Palestina.
Detikcom pada Sabtu, 19 September 2026, melaporkan Prabowo mengatakan dirinya teringat penderitaan rakyat Palestina.
“Saya minta maaf, tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka,” kata Prabowo sebagaimana dikutip Detikcom.
Pernyataan tersebut kemudian diarahkan Prabowo kepada persoalan yang lebih luas: kekuatan sebuah bangsa.
Menurut Presiden, keadaan yang dialami Palestina seharusnya menjadi dorongan bagi Indonesia untuk membangun kekuatan nasional. Ia menghubungkan kekuatan itu dengan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemauan generasi muda untuk belajar.
“Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak, kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain,” kata Prabowo, sebagaimana dilaporkan Detikcom pada Sabtu, 19 September 2026.
Di depan para kiai, ustaz, santri dan alumni Gontor, Presiden kemudian mengajak generasi penerus berani membaca kelemahan bangsa sendiri. Menurut dia, sejarah kolonialisme Indonesia harus menjadi pelajaran agar bangsa ini tidak kembali berada di bawah kekuasaan bangsa lain.
“Kita harus kuat, karena kita dengan kekuatan, kalau kita kuat, kita bisa bantu saudara-saudara kita yang ditindas atau tertindas bangsa lain. Kalau kita tidak punya kekuatan bagaimana kita membantu,” kata Prabowo.
Dengan demikian, Palestina dalam pidato Prabowo tidak hanya muncul sebagai isu diplomatik. Presiden menjadikannya pintu masuk untuk berbicara mengenai pendidikan, kemandirian, kekuatan nasional dan kemampuan suatu negara membantu bangsa lain.
PIDATO DIMULAI DENGAN RASA SYUKUR
Sebelum momen Palestina tersebut, Prabowo mengawali pidatonya dengan rasa syukur atas situasi bangsa Indonesia.
“Kita bersyukur atas segala kebaikan, berkah dan karunia sebagai bangsa dan rakyat. Bersyukur atas perdamaian dan kedamaian yang kita rasakan saat ini,” kata Prabowo.
Ia mengatakan bangsa Indonesia juga patut bersyukur atas kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor.
Namun Prabowo segera mengingatkan bahwa tidak semua masyarakat Indonesia sedang berada dalam keadaan yang sama.
“Tentunya kita juga berdoa agar saudara-saudara kita di berbagai tempat di Tanah Air kita yang mengalami musibah agar diberi kekuatan, kesabaran dan ketegaran untuk menghadapi kesulitannya. Semoga Allah meringankan penderitaan mereka dan melindungi mereka di saat yang akan datang,” ujarnya.
Pidato Presiden kemudian sempat berubah cair saat menanggapi sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal.
Prabowo memuji cara Hasan menyampaikan penghormatan kepada tamu yang hadir tanpa membacakan daftar panjang nama pejabat satu per satu.
“Sambutannya sangat modern dan efisien. Dari hanya ‘yang terhormat’-nya satu saja,” kata Prabowo.
Presiden bahkan mengatakan dirinya harus berhati-hati dengan waktu ketika berbicara di lingkungan Gontor yang dikenal kuat dengan tradisi disiplin.
“Saya diberi waktu berapa lama? Karena saya harus disiplin. Jangan sampai di tempat yang disiplin ini tamunya yang tidak disiplin,” katanya.
Prabowo kemudian menyebut Hasan sebagai orang yang memegang kendali di lingkungan pondok.
“Beliau adalah panglimanya di sini. Saya ini tamu,” ujarnya.
KEFFIYEH DARI DUBES PALESTINA
Momen pemberian keffiyeh menjadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam resepsi tersebut.
ANTARA pada Sabtu, 19 September 2026, melaporkan Dubes Palestina Abdulfattah A.K. Al-Sattari bergerak menuju panggung setelah Prabowo menyerukan “Free Palestine”. Ia kemudian memberikan keffiyeh kepada Presiden sebelum keduanya berpelukan.
Kementerian Pertahanan RI sebelumnya pada Rabu, 25 Februari 2026, mencatat Abdalfatah A.K. Alsattari sebagai pejabat baru Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia. Dalam pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ketika itu, kedua pihak membahas bantuan kemanusiaan, dukungan medis, dan pendidikan bagi Palestina.
Dukungan pendidikan tersebut antara lain diwujudkan melalui mahasiswa Palestina yang belajar di Universitas Pertahanan RI. Kementerian Pertahanan pada Selasa, 6 Januari 2026, menyebut terdapat 66 mahasiswa Palestina yang saat itu menempuh pendidikan di Unhan RI.
Karena itu, perjumpaan Prabowo dan Dubes Palestina di Gontor berada dalam konteks hubungan Indonesia-Palestina yang lebih luas, tidak hanya berupa pernyataan politik tetapi juga kerja sama pendidikan dan kemanusiaan.
PALESTINA DI PANGGUNG PESANTREN
Panggung tempat seruan tersebut disampaikan juga memberi konteks tersendiri.
Prabowo tidak meneriakkan “Free Palestine” dari forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, konferensi diplomatik ataupun Istana Kepresidenan. Ia mengucapkannya dari panggung pesantren yang pada hari itu sedang memperingati perjalanan satu abad.
Di hadapannya terdapat para santri dan alumni, tetapi juga sejumlah duta besar dan tamu internasional.
Gontor sendiri selama satu abad membangun jejaring pendidikan dengan berbagai negara Muslim. Hubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan di Mesir, Timur Tengah dan berbagai negara lain menjadi salah satu unsur yang ikut membentuk karakter internasional pesantren tersebut.
Kehadiran Dubes Palestina karena itu mempertemukan dua lapis pesan dalam satu panggung: perjalanan seratus tahun lembaga pendidikan Islam Indonesia dan persoalan Palestina yang terus menjadi isu internasional.
Seruan “Free Palestine” yang dijawab ribuan hadirin kemudian membuat peringatan seabad itu untuk beberapa saat keluar dari bingkai sejarah Gontor sendiri.
Perhatian bergeser ribuan kilometer menuju Palestina.
PENDIDIKAN DAN KEKUATAN BANGSA
Namun Prabowo membawa pembicaraan itu kembali kepada para santri.
Bagi Presiden, penderitaan bangsa lain tidak cukup hanya dijawab dengan simpati. Indonesia, katanya, harus memiliki kemampuan untuk membantu.
Dalam pidatonya, Prabowo menghubungkan kemampuan tersebut dengan pembangunan bangsa yang kuat. Karena itu ia meminta para pendidik dan generasi penerus untuk belajar dari kekurangan Indonesia sendiri.
Ia juga membawa hadirin kembali kepada sejarah penjajahan Indonesia. Bangsa ini, kata Prabowo, pernah mengalami masa ketika berada di bawah kekuasaan negara lain dalam waktu lama.
Pengalaman sejarah itu menurutnya harus menjadi peringatan.
Prabowo mengatakan Indonesia tidak boleh kembali berada pada posisi lemah sehingga mudah dikuasai pihak lain. Dari sanalah ia menghubungkan pendidikan dengan kekuatan bangsa dan kemampuan menolong bangsa yang mengalami penindasan.
Pesan tersebut memperoleh relevansi khusus ketika disampaikan di Gontor.
Pesantren yang berdiri pada 1926 itu sejak awal menjadikan pendidikan sebagai medan perjuangan. Seratus tahun kemudian, pendidikan kembali muncul dalam pidato Presiden sebagai salah satu jalan untuk membangun kekuatan nasional.
LIMA KALI FREE PALESTINE
Momen Palestina akhirnya menjadi salah satu fragmen paling menonjol dalam pidato Prabowo di Gontor.
Tiga kali seruan muncul setelah Presiden menyebut Duta Besar Palestina. Dua kali lainnya kembali terdengar setelah Prabowo melanjutkan pidato.
Lima kali “Free Palestine”.
Lima kali pula seruan Presiden bertemu dengan suara ribuan orang di dalam Balai Pertemuan Pondok Modern.
Dubes Palestina kemudian datang ke panggung membawa keffiyeh. Ia memberikannya kepada Presiden, keduanya berpelukan, dan Prabowo mengenakannya untuk melanjutkan acara. Rangkaian peristiwa tersebut dikonfirmasi dalam laporan ANTARA pada Sabtu, 19 September 2026.
Di tengah resepsi yang semula dimaksudkan untuk melihat kembali perjalanan Gontor sejak 1926, Palestina akhirnya mendapat ruang tersendiri.
Prabowo mengaitkannya dengan persoalan yang lebih besar dari sekadar slogan: sebuah bangsa, menurutnya, harus cukup kuat agar dapat membantu bangsa lain yang mengalami penindasan.
Dan pada Sabtu itu, dari sebuah pesantren di Ponorogo yang sedang memasuki abad keduanya, pesan Palestina kembali bergema,
“Free Palestine!”
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
PALESTINA, PENDIDIKAN, DAN AMANAH KEKUATAN
Seruan dukungan terhadap Palestina yang disampaikan Presiden Prabowo di tengah peringatan satu abad Gontor mempertemukan dua isu yang memiliki konteks berbeda: solidaritas terhadap masyarakat Palestina dan tanggung jawab membangun kekuatan bangsa sendiri.
Dalam pidatonya, Prabowo menghubungkan keduanya dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kemampuan suatu bangsa untuk membantu bangsa lain. Pesan tersebut disampaikan di hadapan komunitas pesantren yang menjadikan pendidikan sebagai bagian penting dari perjalanan kelembagaannya selama satu abad.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”
(QS. Al-Anfal [8]: 60)
Dalam konteks kehidupan berbangsa, kekuatan dapat dipahami dalam berbagai bentuk yang relevan dengan zaman, termasuk ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, teknologi, kesehatan, pertahanan, serta kemampuan kemanusiaan. Kekuatan tersebut pada akhirnya menjadi amanah tentang bagaimana sebuah bangsa menggunakannya.
PENDIDIKAN SEBAGAI JALAN MEMBANGUN KEMAMPUAN
Momen di Gontor juga memperlihatkan bagaimana isu internasional dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda. Peristiwa Palestina tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan yang terjadi jauh di luar Indonesia, tetapi dikaitkan dengan pertanyaan mengenai apa yang dapat dibangun di dalam negeri.
Pendidikan menjadi salah satu ruang penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ilmu yang dikuasai, karakter yang dibentuk, dan kemampuan yang dikembangkan generasi muda pada akhirnya menentukan bagaimana sebuah bangsa menjalankan tanggung jawabnya di tengah masyarakat internasional.
Memasuki abad kedua Gontor, pesan tersebut bertemu dengan sejarah panjang lembaga pendidikan yang dibangun lintas generasi. Solidaritas kepada Palestina dan pembangunan Indonesia dapat dibicarakan dalam ruang yang sama, dengan tetap membedakan antara pernyataan politik, kebijakan negara, dan tanggung jawab pendidikan.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment