Advertisement
Nasional
Home » Hari Santri 2026: Kemenag Siapkan Lima Program, Tokoh Islam Tekankan Pesantren Aman dan Berorientasi Peradaban

Hari Santri 2026: Kemenag Siapkan Lima Program, Tokoh Islam Tekankan Pesantren Aman dan Berorientasi Peradaban


JAKARTA, UBN NEWSROOM — Kamis, 11 Jumadil Awal 1448 H/22 Oktober 2026.

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam membangun peradaban bangsa. Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat pendidikan, kemandirian, dan kompetensi santri dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pada saat yang sama, sejumlah tokoh Islam mengingatkan pentingnya menjaga pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, bebas dari perundungan dan tindak asusila, sekaligus mampu melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan lima program tersebut dalam upacara peringatan Hari Santri 2026 di halaman kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Peringatan tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Pesantren dan sejarah perjuangan bangsa

Penggerebekan Ponpes Sukoharjo, Santriwati Diduga Diintimidasi

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober sejak ditetapkan pada 2015. Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa 22 Oktober 1945, ketika Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari mengumandangkan Resolusi Jihad yang menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Semangat perjuangan para ulama dan santri turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” tegas Nasaruddin.

Ia menambahkan, perjuangan generasi sekarang perlu dilanjutkan melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Karena itu, Kemenag terus memperkuat ekosistem pendidikan pesantren agar mampu memperluas kontribusinya dalam pembangunan nasional dan mempersiapkan santri menghadapi Indonesia Emas 2045.

Netanyahu Kehilangan Mayoritas, Qatar Terseret Tuduhan Intervensi Pemilu

Lima program strategis Kemenag

Menurut Nasaruddin, terdapat lima program yang disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 yang menandai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penguatan pengakuan dan komitmen negara terhadap pendidikan pesantren.

1. Safesantri: lingkungan pendidikan yang aman

Program SAFESANTRI diarahkan untuk memperkuat pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.

Kemenag membentuk Satuan Tugas SAFESANTRI yang diluncurkan pada peringatan Hari Santri 2026. Satgas ini disiapkan untuk memperkuat mekanisme pencegahan, pengaduan, pendampingan, dan respons cepat terhadap persoalan kekerasan di lingkungan pesantren.

Arab Saudi Siapkan Penyimpanan Minyak di Singapura, Kapasitas Gua Bawah Tanah Capai 9 Juta Barel

Sejumlah tokoh pesantren, termasuk Gus Kautsar, disebut telah menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam satuan tugas tersebut.

Menag menegaskan bahwa citra pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman harus dijaga melalui tindakan nyata dan tidak boleh tercoreng oleh perilaku oknum yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.

2. Penguatan rekognisi ijazah

Program kedua berfokus pada penguatan pengakuan terhadap pendidikan pesantren. Tujuannya adalah memperluas kesempatan santri untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, serta mengembangkan karier di berbagai bidang.

Melalui program ini, capaian pendidikan dan kompetensi lulusan pesantren diharapkan memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.

“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” ujar Nasaruddin.

3. Pesantren adaptif dan mandiri

Program ketiga mendorong pesantren untuk memperkuat penguasaan teknologi, meningkatkan kualitas tata kelola kelembagaan, dan mengembangkan kemandirian ekonomi.

Perkembangan AI serta bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi tantangan yang perlu direspons melalui penguatan kapasitas pendidikan.

Pesantren juga didorong untuk mengembangkan kegiatan usaha, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi pesantren,” ucap Nasaruddin.

4. Santri 5.0

Program Santri 5.0 diarahkan untuk membentuk generasi yang memiliki penguasaan ilmu keislaman sekaligus keterampilan yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan dunia kerja.

Penguatan keterampilan, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, dan karakter keagamaan menjadi bagian dari persiapan menghadapi tantangan masa depan.

“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” papar Nasaruddin.

5. Dakwah digital

Program kelima bertujuan menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami media sosial, algoritma, AI, dan produksi konten kreatif.

Kemenag berharap dakwah yang santun dan moderat dapat menjangkau generasi muda melalui ruang digital yang semakin berpengaruh terhadap cara masyarakat mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan.

Meski memanfaatkan teknologi, dakwah pesantren tetap perlu berlandaskan kedalaman ilmu agama dan kesinambungan sanad keilmuan.

“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” tandasnya.

Din Syamsuddin: pesantren harus bebas dari perundungan dan asusila

Di tengah penguatan program pendidikan pesantren, Pengasuh Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa, M. Din Syamsuddin, menyerukan agar lingkungan pesantren dibersihkan dari praktik perundungan dan permesuman.

“Lingkungan pesantren harus dibersihkan dari praktik perundungan dan permesuman,” kata Din dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (22/10/2026).

Namun, Din menegaskan bahwa upaya pemberantasan praktik tersebut tidak boleh hanya diarahkan kepada pesantren. Menurut dia, perundungan dan permesuman juga terjadi di berbagai lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat, hingga instansi pemerintah.

Din menilai fenomena tersebut berkaitan dengan struktur sosial dan berbagai faktor, mulai dari kebebasan dan ketidakadilan hingga kekerasan sosial, politik, dan ekonomi atau capital violence.

Ia juga menyoroti revolusi informatika yang melanda dunia. Menurut Din, kebijakan langit terbuka atau open sky policy yang ditempuh pemerintah turut menjadi salah satu faktor pemicu yang perlu dicermati.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan perundungan dan tindak asusila perlu dipahami secara menyeluruh, baik dari sisi perilaku individu maupun lingkungan sosial yang memengaruhinya.

Sekjen MUI: pesantren harus tetap menjadi rujukan peradaban

Senada dengan pentingnya pembenahan lingkungan pendidikan, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa pesantren harus tetap menjadi rujukan dalam membangun peradaban bangsa di tengah disrupsi teknologi.

Buya Amirsyah menyampaikan tiga catatan penting mengenai eksistensi pesantren.

Pertama, pesantren telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari lingkungan pesantren lahir para ulama yang berada di garda terdepan perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Kedua, perjuangan kaum santri tidak berhenti setelah kemerdekaan. Peran mereka terus berlanjut dalam pembangunan dan berbagai upaya memajukan Indonesia.

Ketiga, pesantren menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat kesiapan pesantren menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.

“Oleh karena itu, semua pihak harus bersinergi mengantisipasi agar pesantren tetap menjadi rujukan dalam membangun peradaban. Sebagaimana nasihat para ulama, ‘al-adabu fauqal ‘ilmi’ (الأدب فوق العلم), adab lebih utama daripada ilmu,” ujar Buya Amirsyah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembentukan akhlak. Lingkungan pesantren harus terbebas dari segala bentuk perundungan dan tindak asusila agar tetap menjadi tempat yang aman bagi para santri.

Menurutnya, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi berakhlak mulia yang memiliki bekal keilmuan dan kompetensi untuk bersaing di tingkat global.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement