JAKARTA | UBN Newsroom — Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H / 6 September 2026 M.
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak signifikan terhadap aktivitas penerbangan pada Ahad (6/9/2026). Sebaran abu vulkanik menyebabkan enam bandara menghentikan sementara operasionalnya demi keselamatan penerbangan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan gangguan tersebut berdampak terhadap sekitar 150 ribu penumpang dan 467 penerbangan. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi operasional penerbangan.
Enam Bandara Ditutup Sementara
Enam bandara yang terdampak penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik tersebut meliputi:
Bandara Soekarno-Hatta — Tangerang, Banten
Bandara Halim Perdanakusuma — Jakarta
Bandara Radin Inten II — Lampung
Bandara Budiarto — Curug, Tangerang
Bandara Pondok Cabe — Tangerang Selatan
Bandara Husein Sastranegara — Bandung, Jawa Barat
Penutupan dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya dampak abu vulkanik di kawasan operasional bandara. Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi dengan pengelola bandara, maskapai, penyelenggara navigasi penerbangan, BMKG, dan pihak terkait lainnya.
467 Penerbangan dan 150 Ribu Penumpang Terdampak
Gangguan akibat erupsi tidak hanya berupa pembatalan penerbangan. Sejumlah penerbangan juga mengalami keterlambatan, penundaan, pengalihan ke bandara lain, hingga kembali ke bandara asal atau Return to Base (RTB).
Secara keseluruhan, tercatat 467 penerbangan terdampak dengan jumlah penumpang mencapai sekitar 150 ribu orang.
Catatan penting, angka sekitar 150 ribu tersebut merupakan jumlah penumpang yang terdampak gangguan operasional penerbangan. Tidak seluruhnya berarti penumpang yang pasti mengalami pembatalan penerbangan.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tercatat 209 penerbangan dibatalkan berdasarkan data yang diberitakan pada periode tersebut.
Sementara itu, di Bandara RHF Tanjungpinang, empat penerbangan dilaporkan dibatalkan dan berdampak terhadap 469 penumpang.
Bukan Hanya Anak Krakatau
Pada hari yang sama, aktivitas erupsi juga dilaporkan terjadi di sejumlah gunung api lain di Indonesia.
Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada Ahad pagi dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Gunung Ibu di Maluku Utara juga mengalami erupsi dengan kolom erupsi dilaporkan mencapai sekitar 600 meter.
Aktivitas erupsi turut dilaporkan terjadi di Gunung Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.
Namun, erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu yang paling berdampak terhadap sektor transportasi udara karena sebaran abu vulkaniknya menjangkau wilayah yang dilalui jalur penerbangan dan kawasan sejumlah bandara.
Keselamatan Menjadi Prioritas
Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa penghentian sementara operasional bandara dilakukan sebagai langkah untuk menjaga keselamatan penerbangan.
Arah dan sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer. Karena itu, operasional bandara dan penerbangan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi lapangan serta hasil koordinasi dengan BMKG dan pihak terkait.
Maskapai juga diminta memberikan informasi serta penanganan kepada para penumpang yang terdampak sesuai ketentuan yang berlaku.
Perspektif UBN Newsroom | Ketika Alam Mengingatkan Manusia tentang Keterbatasannya
Erupsi Gunung Anak Krakatau dan aktivitas sejumlah gunung api lainnya menjadi pengingat bahwa bumi yang tampak tenang menyimpan kekuatan besar yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.
Allah SWT berfirman:
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
Artinya:
“Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah [88]: 19)
Sains menjelaskan aktivitas gunung api melalui pergerakan magma, tekanan gas, dan berbagai proses geologis di bawah permukaan bumi. Namun, bagi seorang mukmin, semakin memahami bagaimana alam bekerja seharusnya semakin menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Allah SWT dan keterbatasan manusia.
Erupsi tidak serta-merta dapat disebut sebagai azab. Namun, fenomena alam seperti ini layak menjadi peringatan agar manusia tidak merasa paling berkuasa atas alam yang ditempatinya.
Dalam kondisi seperti ini, mitigasi, pemantauan ilmiah, dan penghentian operasional penerbangan demi keselamatan merupakan bagian dari ikhtiar dan tanggung jawab manusia.
Ketika alam memperlihatkan kedahsyatannya, bukan hanya perhatian manusia yang perlu diarahkan kepada peristiwa tersebut, tetapi juga hati agar semakin mengenal Allah, semakin rendah hati, dan semakin sadar akan keterbatasannya.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment