SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan
Home » Guru di Aceh Seberangi Sungai dengan Seutas Tali, Potret Ketangguhan di Tengah Keterbatasan Infrastruktur

Guru di Aceh Seberangi Sungai dengan Seutas Tali, Potret Ketangguhan di Tengah Keterbatasan Infrastruktur

ACEH BARAT — Seorang guru di Desa Sukondo, Kabupaten Aceh Barat, harus mempertaruhkan keselamatannya dengan menyeberangi sungai menggunakan seutas tali setiap hari demi dapat mengajar para siswa. Kondisi tersebut terjadi karena jembatan yang selama ini menjadi akses utama menuju sekolah mengalami kerusakan dan belum dapat dilalui secara aman.

Dedikasi Guru Mengalahkan Keterbatasan

Di tengah minimnya infrastruktur, sang guru tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Meski harus menghadapi risiko saat menyeberangi sungai, ia memilih tetap datang ke sekolah agar proses belajar mengajar tidak terhenti.

Perjuangan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa masih terdapat wilayah di Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan akibat rusaknya fasilitas dasar. Infrastruktur yang belum memadai tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Akses Pendidikan Masih Menjadi Tantangan

Rusaknya jembatan penghubung memaksa warga, termasuk para guru dan siswa, mencari alternatif yang berisiko untuk mencapai sekolah. Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah daerah, khususnya wilayah yang memiliki kondisi geografis menantang.

Keberadaan akses yang aman menjadi faktor penting untuk menjamin keberlangsungan kegiatan pendidikan dan aktivitas sosial masyarakat secara umum.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Perspektif UBN Newsroom | Peradaban Islam & Soft Power Global

Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu dan mengajarkannya merupakan amal yang memiliki kedudukan mulia. Keteguhan seorang guru yang tetap menjalankan amanah di tengah keterbatasan mencerminkan nilai pengabdian, keikhlasan, dan tanggung jawab terhadap generasi penerus bangsa. Semangat seperti ini menjadi bagian dari pembangunan peradaban yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi kemajuan umat.

Di tingkat global, kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh dukungan negara dalam menyediakan akses pendidikan yang aman dan merata. Infrastruktur yang memadai merupakan bagian dari investasi peradaban yang menentukan daya saing suatu bangsa.

Perspektif Syariah Compliance

Syariat Islam menekankan pentingnya menjaga keselamatan jiwa (hifz an-nafs) sebagai salah satu tujuan utama (maqashid syariah). Karena itu, penyediaan akses yang aman menuju fasilitas pendidikan menjadi tanggung jawab yang harus diupayakan oleh pihak yang memiliki kewenangan.

Di sisi lain, dedikasi seorang guru dalam menunaikan amanah pendidikan mencerminkan nilai ihsan dan tanggung jawab sosial. Namun, pengabdian tersebut tidak seharusnya berlangsung dalam kondisi yang terus-menerus membahayakan keselamatan. Upaya perbaikan infrastruktur menjadi langkah yang selaras dengan prinsip kemaslahatan dalam Islam.

Harapan Perbaikan Infrastruktur

Kondisi yang dialami guru di Desa Sukondo diharapkan menjadi perhatian pemerintah serta pihak-pihak terkait. Perbaikan jembatan dan infrastruktur dasar perlu segera direalisasikan agar aktivitas masyarakat, khususnya proses pendidikan, dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan berkelanjutan.

Gonsus 88 Kini Dipimpin Trimurti, Tiga Tokoh Rawat Persaudaraan Alumni Gontor

Perjuangan para guru di daerah terpencil menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan tidak hanya berkaitan dengan konektivitas wilayah, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak dasar masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak dan aman.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement