JAKARTA | UBN Newsroom — Rabu, 20 Rabiul Awal 1448 H / 2 September 2026 M.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memperburuk kondisi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra. Di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, asap pekat dilaporkan mengganggu jarak pandang dan membuat sejumlah warga serta relawan pemadam mengalami gangguan pernapasan.
Dalam video yang beredar, sejumlah warga terlihat mengalami sesak dan napas tersengal-sengal. Sebagian warga mendapatkan bantuan oksigen melalui selang untuk membantu pernapasan di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.
Kondisi tersebut menjadi gambaran dampak langsung karhutla terhadap masyarakat. Kualitas udara di sejumlah wilayah bahkan telah mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Dampak kesehatan terus meningkat
Kementerian Kesehatan mencatat karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, sebanyak 10.674.201 orang terdampak karhutla. Dalam periode yang sama, tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif, dengan 4.082 kasus terjadi pada 27 Agustus.
Sebanyak 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap, sementara dua orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan tersebut diperbarui, belum tercatat korban meninggal akibat bencana asap karhutla.
Di Kalimantan Barat, jumlah kasus ISPA sejak awal 2026 bahkan telah mencapai 165.747 kasus hingga awal Agustus. Kalimantan Selatan mencatat 18.423 kasus, sedangkan Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 3.000 kasus dalam periode 10–16 Agustus.
Kemenkes telah memobilisasi ratusan tenaga kesehatan dan memperkuat fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.

Lebih dari 200 ribu hektare terbakar
Data pemerintah menunjukkan skala kebakaran yang semakin besar. Sepanjang Januari–Juli 2026, luas hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia mencapai sekitar 202.010 hektare.
Hampir 95.000 hektare terbakar hanya pada Juli 2026, hampir menyamai total luasan yang terbakar selama enam bulan sebelumnya.
Kementerian Kehutanan juga mencatat hingga 30 Agustus masih terdapat puluhan lokasi karhutla yang dalam proses pemadaman. Pada periode tersebut, hotspot berkepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah hotspot harian dapat berubah, ancaman karhutla masih berlangsung dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Penyebab: faktor manusia dan kondisi ekstrem
Pemerintah masih melakukan pemeriksaan terhadap penyebab kebakaran. Menteri Kehutanan menyebut sebagian besar kerusakan berkaitan dengan aktivitas manusia, sementara kondisi El Niño yang menyebabkan cuaca lebih panas dan kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dipadamkan.
Di sisi lain, keterlibatan perusahaan juga sedang diperiksa. Pemerintah menemukan kebakaran pada area konsesi yang dikelola sejumlah perusahaan.
Sebanyak 19 perusahaan sedang diperiksa setelah kebakaran ditemukan pada area konsesi mereka dengan total sekitar 11.047 hektare. Pemerintah juga mengidentifikasi 42 perusahaan yang memiliki konsesi dengan risiko kebakaran tinggi.
Namun, hingga saat ini pemerintah belum menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sebagai penyebab kebakaran. Pemeriksaan masih dilakukan untuk mengetahui apakah kebakaran terjadi karena faktor tidak disengaja atau sengaja.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan juga telah menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan setelah menemukan kebakaran pada areal yang mereka kelola dengan total 1.511,55 hektare.
Karena itu, perusahaan tambang maupun perusahaan di sektor lain tidak dapat langsung disebut sebagai penyebab tanpa hasil investigasi. Status setiap pihak harus ditentukan berdasarkan bukti dan proses hukum yang berlaku.
Asap menyeberangi batas negara
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan di Indonesia.
Asap dari Kalimantan dan Sumatra telah terpantau bergerak melintasi wilayah perbatasan menuju sejumlah negara di Asia Tenggara.
Berdasarkan pemantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), asap lintas batas telah mencapai Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Kondisi asap juga terpantau di wilayah Sarawak dan Sabah, sementara bagian Filipina seperti Palawan dan Panay turut mengalami paparan asap lintas batas.
Indonesia juga telah memperingatkan potensi pergerakan polutan menuju Malaysia, Singapura, dan Brunei mengikuti arah angin.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla Indonesia telah berkembang menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan yang memiliki dampak regional.
Prabowo kumpulkan Panglima TNI dan Kapolri di Hambalang
Di tengah kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/9/2026).
Pertemuan membahas perkembangan situasi nasional serta penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Presiden menerima laporan mengenai kondisi di lapangan, termasuk langkah penanganan dan pengendalian yang telah dilakukan.
“Pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terpadu, sekaligus mengantisipasi meluasnya titik kebakaran,” kata Teddy.
Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo, Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri, Kabaintelkam Polri Komjen Pol. Yuda Gustawan, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, serta sejumlah pejabat lainnya.
Perspektif UBN Newsroom
Negara hadir menghadapi krisis
Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan, keselamatan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, negara perlu hadir melalui koordinasi yang cepat, penegakan hukum, pelayanan kesehatan, serta pencegahan agar kebakaran tidak terus meluas.
Rapat Presiden bersama jajaran TNI-Polri menunjukkan pentingnya koordinasi lintas lembaga ketika ancaman sudah berdampak luas.
Menjaga amanah dan mencegah mudarat
Hutan, lingkungan, dan keselamatan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga. Kebijakan dan aktivitas ekonomi tidak boleh menghasilkan kerusakan yang membahayakan kehidupan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
«وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
QS. Al-A’raf [7]: 56»
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pemanfaatan sumber daya harus berjalan bersama tanggung jawab. Pencegahan kebakaran, pengawasan terhadap perusahaan, penegakan hukum terhadap pelaku, serta perlindungan masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar mencegah mudarat dan menjaga kemaslahatan.
Catatan Redaksi
Data kesehatan dalam berita ini mengacu pada pembaruan Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026. Data luas kebakaran mengacu pada data pemerintah yang tersedia hingga akhir Agustus 2026. Pemeriksaan terhadap perusahaan masih berlangsung dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa perusahaan tertentu merupakan penyebab kebakaran.
Kondisi asap dan titik kebakaran dapat berubah dengan cepat mengikuti cuaca, arah angin, serta proses pemadaman. Pembaruan selanjutnya perlu merujuk pada data resmi pemerintah dan lembaga terkait.
Dukungan Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, lingkungan, kemanusiaan, kebijakan publik, dan peradaban.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment