BANYUWANGI, JAWA TIMUR | UBN Newsroom — Jumat, 22 Rabiul Awal 1448 H / 4 September 2026 M.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Merapi Ungup-Ungup, Banyuwangi, Jawa Timur, terus meluas hingga memasuki kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.
Berdasarkan laporan BPBD Jawa Timur, luas area yang terbakar telah mencapai sekitar 20 hektare. Api yang awalnya berada di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup merambat ke arah barat dan mendekati jalur pendakian Kawah Ijen.
Api Merambat ke Kawasan Ijen
Kebakaran pertama kali terpantau di kawasan Gunung Merapi Ungup-Ungup. Sejumlah titik api kemudian terlihat di lereng kawasan tersebut dan terus berkembang akibat kondisi medan serta arah angin.
Pemantauan di lapangan menunjukkan api bergerak menuju kawasan TWA Kawah Ijen. Pada Jumat (4/9), kobaran api dilaporkan telah mencapai area sekitar Pondok Bunder, salah satu titik yang berada di jalur pendakian Kawah Ijen.
Pondok Bunder berada sekitar dua hingga tiga kilometer dari kawasan Paltuding, yang menjadi pintu masuk jalur pendakian Kawah Ijen. Perkembangan tersebut membuat risiko terhadap kawasan wisata dan jalur pendakian semakin meningkat.
Medan Terjal Hambat Pemadaman
Upaya pemadaman menghadapi kendala medan yang ekstrem. Sejumlah titik api berada di kawasan dengan lereng terjal, licin, dan sulit dijangkau secara langsung oleh petugas.
Pada pemantauan sebelumnya, titik api berada di kawasan dengan kemiringan medan yang sangat curam. Kondisi tersebut membuat personel harus melakukan pemantauan dan penanganan dengan mempertimbangkan keselamatan petugas.
Petugas gabungan dari BKSDA, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta unsur masyarakat terus melakukan pemantauan dan pemadaman untuk mencegah api meluas lebih jauh.
Luas Kebakaran Masih Dapat Berubah
Angka luas kebakaran masih bersifat sementara karena api terus bergerak dan proses pemadaman masih berlangsung.
Pada Kamis (3/9), tim pemantau memperkirakan area yang terbakar berada di kisaran 8–10 hektare. Laporan BPBD Jawa Timur pada Jumat (4/9) kemudian menyebut luasnya telah mencapai sekitar 20 hektare.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa luas area terdampak masih dalam proses pemutakhiran dan dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran.
Belum Ada Korban Jiwa Dilaporkan
Hingga laporan terbaru Jumat (4/9), belum ada laporan korban jiwa akibat kebakaran tersebut.
Detik juga melaporkan belum ada pendaki atau pengunjung yang terdampak akibat kebakaran. Namun, karena api telah mendekati kawasan wisata dan jalur pendakian, aspek keselamatan menjadi perhatian utama.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur kemudian menutup seluruh aktivitas di TWA dan Cagar Alam Kawah Ijen mulai 4 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi risiko terhadap pengunjung dan memudahkan proses penanganan kebakaran.
Dampak terhadap Ekosistem dan Wisata
Kebakaran berpotensi merusak vegetasi dan ekosistem kawasan konservasi Merapi Ungup-Ungup serta TWA Kawah Ijen.
Selain kerusakan ekologis, kebakaran juga mengancam aktivitas wisata dan pendakian. Masuknya api hingga sekitar Pondok Bunder membuat jalur pendakian berada dalam wilayah yang perlu diwaspadai.
Asap dan kobaran api juga dapat mengganggu jarak pandang serta meningkatkan risiko keselamatan bagi masyarakat maupun petugas yang berada di sekitar kawasan.
Masyarakat Diimbau Waspada
Masyarakat dan wisatawan di sekitar kawasan Ijen diimbau tidak mendekati lokasi kebakaran dan mengikuti informasi resmi dari petugas.
Penutupan kawasan menjadi langkah pencegahan agar masyarakat tidak berada terlalu dekat dengan titik api selama proses pemadaman masih berlangsung.
Perspektif UBN Newsroom
Negara Hadir Menghadapi Krisis Lingkungan
Karhutla bukan hanya persoalan rusaknya vegetasi. Ketika api meluas ke kawasan konservasi dan mendekati jalur wisata, dampaknya menyentuh keselamatan manusia, lingkungan, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan kawasan wisata.
Karena itu, negara perlu hadir melalui pemantauan, koordinasi lintas lembaga, pengerahan sumber daya, perlindungan masyarakat, serta penanganan yang cepat dan terukur.
Kebakaran Merapi Ungup-Ungup juga menunjukkan bahwa penanganan bencana di kawasan dengan medan ekstrem membutuhkan kesiapan personel, peralatan, akses, dan strategi yang sesuai dengan karakter wilayah.
Menjaga Amanah dan Mencegah Mudarat
Alam merupakan bagian dari nikmat Allah SWT yang harus dijaga. Pemanfaatan lingkungan tidak boleh dilakukan dengan cara yang menimbulkan kerusakan dan membahayakan kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
«وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
QS. Al-A’raf [7]: 56»
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah. Karena itu, pencegahan kebakaran, pengawasan terhadap aktivitas manusia, serta penanganan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kemaslahatan.
Pada saat yang sama, keselamatan manusia harus menjadi prioritas. Ketika kebakaran mendekati kawasan wisata dan jalur pendakian, pembatasan aktivitas merupakan bentuk pencegahan mudarat untuk melindungi masyarakat.
Catatan Redaksi
Luas kebakaran sekitar 20 hektare merupakan data sementara dan masih dapat berubah karena proses pemadaman berlangsung. Hingga laporan terbaru, belum ada laporan korban jiwa maupun pendaki yang terdampak.
Informasi mengenai penyebab kebakaran masih memerlukan hasil pemeriksaan resmi dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perkembangan titik api.
Dukungan Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, lingkungan, kemanusiaan, kebijakan publik, dan peradaban.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment