REOK, NTT | UBN Newsroom — Jumat, 15 Rabiul Awal 1448 H / 28 Agustus 2026 M.
Di tengah rumah-rumah yang rusak dan fasilitas ibadah yang belum sepenuhnya pulih, warga penyintas gempa di Langkas, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap memenuhi Masjid Raudhatul Jannah untuk melaksanakan shalat Jumat (28/8/2026). Pesan yang disampaikan dalam khotbah menjadi penguat bagi masyarakat agar musibah tidak meruntuhkan keteguhan iman.
Masjid yang berada tepat di bibir pantai tersebut masih dapat digunakan untuk beribadah. Namun, sejumlah fasilitas penunjang mengalami kerusakan, termasuk tempat wudhu dan toilet yang dilaporkan hancur akibat gempa.
Kesabaran Menjadi Kunci Menghadapi Musibah
Suasana shalat Jumat berlangsung khidmat meski masyarakat masih berada dalam kondisi pemulihan pascabencana. Ketua AQL Humanity, Ustaz Firman Fabi, bertindak sebagai imam sekaligus khatib.
Dalam khotbahnya, Ustaz Firman mengajak para penyintas untuk memperkuat kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi berbagai ujian. Kehilangan harta, kerusakan rumah, rasa takut, hingga kehilangan orang-orang tercinta, menurutnya, tidak seharusnya membuat seorang Muslim berputus asa.

“Kesabaran menjadi kunci utama ketika musibah merenggut harta benda, merusak rumah, atau bahkan merenggut nyawa orang-orang tercinta,” ujar Ustaz Firman dalam khotbahnya.
Ia mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, masih terdapat nikmat besar yang patut disyukuri, yakni kesempatan untuk tetap hidup, beribadah, dan bersujud kepada Allah SWT.
Musibah Tidak Boleh Memadamkan Ibadah
Ustaz Firman juga mengajak jamaah meyakini bahwa setiap ketetapan Allah SWT memiliki hikmah. Bagi mereka yang meninggal dalam musibah, umat Islam dianjurkan mendoakan mereka dan meyakini kemuliaan yang Allah SWT janjikan bagi orang-orang yang wafat dalam keadaan syahid.
Sementara bagi masyarakat yang masih diberi kesempatan hidup, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak amal, saling membantu, dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, bencana tidak boleh memadamkan semangat umat dalam menegakkan ibadah. Kerusakan bangunan masjid, bahkan jika membuat jamaah harus beribadah di tempat darurat, tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban.
“Yang terpenting bukan megahnya bangunan atau seberapa banyak jumlah yang hadir, melainkan kualitas keimanan dan bagaimana azan serta kalimat Allah tetap berkumandang di muka bumi,” katanya.

Bangunan Boleh Rusak, Iman Harus Tetap Teguh
Ustaz Firman menegaskan bahwa musibah boleh merusak bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan keimanan. Karena itu, para penyintas diajak merapatkan barisan, merawat harapan, dan terus berjalan dalam ketaatan kepada Allah SWT.
“Selama napas masih dikandung badan, mari merapatkan barisan, merawat asa, dan terus berjalan di atas jalan ketaatan dengan hati yang lapang dan jiwa yang berserah sepenuhnya kepada Sang Pencipta,” ujarnya.
Perspektif UBN Newsroom
Keteguhan Iman di Tengah Ujian
Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang Mukmin tidak terlepas dari ujian. Musibah tidak selalu dapat dipahami seluruh hikmahnya saat itu juga, tetapi seorang Muslim diperintahkan untuk bersabar, bertawakal, dan tetap menjaga ketaatan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ١٥٥ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ١٥٦ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ١٥٧
Artinya:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155–157)
Ayat tersebut memberikan landasan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Kesabaran dalam Islam berjalan bersama usaha, doa, kepedulian, dan keteguhan untuk tetap berada di jalan Allah SWT meskipun keadaan sedang sulit.
Dalam konteks bencana, menjaga kehidupan dan membantu para penyintas merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Dukungan berupa pangan, tempat tinggal, fasilitas ibadah, pendampingan, hingga proses pemulihan menjadi bentuk nyata dari kepedulian terhadap saudara yang sedang menghadapi ujian.
Masjid Raudhatul Jannah yang tetap digunakan untuk shalat Jumat di tengah kerusakan fasilitas menjadi gambaran bahwa keterbatasan fisik tidak semestinya memutus hubungan manusia dengan Allah SWT. Bangunan dapat diperbaiki, tetapi iman harus terus dijaga.
Musibah pada akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, memperbanyak amal, serta membangun kembali kehidupan dengan kesabaran dan tawakal. Bangunan boleh runtuh, tetapi iman jangan sampai ikut runtuh.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment