SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » Maulid di Masjid Darurat, AQL Humanity Ajak Penyintas Teladani Akhlak Rasulullah

Maulid di Masjid Darurat, AQL Humanity Ajak Penyintas Teladani Akhlak Rasulullah

REOK, NTT | UBN Newsroom — Senin, 18 Rabiul Awal 1448 H / 30 Agustus 2026 M.

Maulid di Tengah Kondisi Darurat

Warga penyintas gempa bumi di Desa Salama, Dusun Batok, Kecamatan Reok, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Darurat Baiturrahman, Ahad (30/8/2026). Masjid tersebut dibangun oleh AQL Humanity untuk mendukung aktivitas ibadah warga terdampak gempa.

Peringatan Maulid berlangsung khidmat sekaligus penuh keceriaan. Warga penyintas mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias meski masih berada dalam kondisi darurat pascagempa.

Rasulullah sebagai Teladan dalam Menghadapi Ujian

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Ketua AQL Humanity, Ustaz Firman Fabi, dalam tausyiahnya mengajak warga menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk musibah gempa yang tengah mereka alami.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi umat Islam.

“Kalau kita mampu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai pegangan hidup dan buku petunjuk kita, insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat,” ujar Firman.

Menurut dia, keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan ketika umat Islam memperingati Maulid Nabi. Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehilangan Harta, Jangan Kehilangan Iman

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Firman juga mengajak para penyintas meneladani sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi cobaan. Menurut dia, kehilangan harta akibat bencana tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan keimanan, keislaman, dan akhlaknya.

“Boleh kita kehilangan harta kita semuanya, tetapi keimanan kita, keislaman kita, akhlak kita tidak boleh hilang di dalam diri kita,” katanya.

Mendahulukan Saudara yang Lebih Membutuhkan

Dalam kondisi berada di pengungsian, ia juga mengingatkan pentingnya sikap tidak tamak dan mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan.

Ia mencontohkan ketika bantuan sembako dibagikan kepada para penyintas. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya melihat apakah masih ada lansia, anak-anak, bayi, atau warga lain yang lebih membutuhkan bantuan tersebut.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

“Dia mendahulukan saudaranya. Mungkin saudaranya di sana lebih butuh sembako, mungkin saudaranya butuh selimut dan lainnya,” ujar Firman.

Ia menegaskan, semangat berbagi dan mendahulukan kepentingan orang lain merupakan bagian dari akhlak yang perlu dijaga, terlebih dalam situasi sulit akibat bencana.

Maulid Bukan Sekadar Seremonial

Firman juga mengingatkan agar peringatan Maulid tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW harus terus dibawa dalam kehidupan setelah acara Maulid selesai.

“Kalau kita mau mencontoh Rasulullah jangan setengah-setengah. Jangan pilih-pilih. Kita hanya mengambil yang enak-enaknya saja, tetapi giliran perjuangannya beliau kita tinggalkan,” katanya.

Akikah dan Harapan Generasi Saleh

Dalam kesempatan tersebut, kegiatan Maulid juga dirangkaikan dengan akikah sejumlah anak. Firman mendoakan agar anak-anak tersebut tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salehah dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Ia menekankan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari keteladanan orang tua. Orang tua, kata dia, perlu terlebih dahulu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berusaha mengikuti kehidupan Rasulullah SAW.

“Kalau kita mau anak-anak kita saleh dan salehah, kita dulu yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mencontoh kehidupan Rasulullah SAW,” ujarnya.

Berharap Bangkit dan Membangun Kembali
Firman berharap peringatan Maulid Nabi di Masjid Darurat Baiturrahman menjadi momentum bagi para penyintas untuk mengambil hikmah dari musibah sekaligus memperkuat keimanan.

Ia juga berharap kondisi darurat yang saat ini dihadapi warga segera berakhir dan masyarakat dapat kembali membangun rumah-rumah mereka, termasuk rumah Allah, dengan kondisi yang lebih baik.

“Maulid kali ini di tempat yang darurat ini, mudah-mudahan kita bisa semuanya membangun lagi yang lebih baik lagi rumah-rumah Allah,” katanya.

Perspektif UBN Newsroom

Akhlak yang Tumbuh di Tengah Ujian

Musibah sering kali menguji manusia bukan hanya melalui kehilangan harta dan tempat tinggal, tetapi juga melalui cara seseorang merespons keadaan. Di tengah keterbatasan, seorang Muslim justru dituntut untuk menjaga iman, akhlak, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama.

Allah SWT berfirman:


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Ayat ini menjadi sangat relevan dengan pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid di tengah kondisi darurat. Keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikenang melalui perayaan, tetapi untuk dihidupkan dalam perilaku sehari-hari, terutama ketika manusia berada dalam keadaan sulit.

Sikap mendahulukan saudara yang lebih membutuhkan juga merupakan bentuk nyata dari akhlak tersebut. Dalam kondisi bencana, ketika persediaan dan fasilitas terbatas, kepedulian diuji melalui kesediaan untuk berbagi dan tidak mengambil sesuatu secara berlebihan untuk kepentingan diri sendiri.

Allah SWT menggambarkan sifat orang-orang beriman:


وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ


Artinya:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 9)

Di sinilah Maulid menemukan maknanya: bukan sekadar mengingat kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menghadirkan kembali akhlaknya dalam kehidupan. Ketika seorang penyintas mampu tetap menjaga iman, berbagi di tengah keterbatasan, mendahulukan orang lain, dan terus berharap untuk bangkit, di sanalah keteladanan Rasulullah mulai menemukan bentuk nyatanya.

Masjid darurat yang menjadi tempat berkumpulnya para penyintas juga menghadirkan pesan bahwa keadaan fisik boleh sementara, tetapi hubungan manusia dengan Allah tidak boleh ikut menjadi sementara.

Sebab ujian boleh meruntuhkan rumah, tetapi jangan sampai meruntuhkan iman dan akhlak. Dan dari akhlak yang tetap terjaga itulah, sebuah masyarakat memiliki kekuatan untuk bangkit dan membangun kembali.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement