SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gaya Hidup
Home » Memilah Sampah, Cara Melatih Self-Awareness dan Empati

Memilah Sampah, Cara Melatih Self-Awareness dan Empati

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 30 Rabiul Awal 1448 H / 12 September 2026 M.

Memilah sampah sering dianggap sebagai aktivitas yang merepotkan. Bahkan, sebagian orang merasa sia-sia memilah sampah karena pada akhirnya sampah tersebut akan dicampur kembali oleh petugas.

Padahal, memilah sampah merupakan salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan pemilahan yang tepat, sampah dapat dikelola sesuai jenisnya dan memiliki peluang lebih besar untuk didaur ulang.

Lebih dari sekadar menjaga lingkungan, kebiasaan memilah sampah ternyata juga dapat menjadi cerminan sekaligus sarana melatih self-awareness atau kesadaran diri serta empati sosial.

MEMILAH SAMPAH MENUNJUKKAN SELF-AWARENESS

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Self-awareness merupakan kemampuan seseorang untuk memahami dirinya sendiri, termasuk emosi, pikiran, kelebihan, kekurangan, serta perilakunya. Kesadaran diri yang baik membantu seseorang mengelola dirinya, terutama ketika menghadapi berbagai persoalan.

Berdasarkan penelitian berjudul Bridging the Gap: Transforming Waste Management Awareness Into Action, tingkat kesadaran seseorang terhadap pengelolaan sampah berkaitan dengan sikap positif yang ditunjukkannya. Salah satu bentuknya adalah kebiasaan memilah sampah.

Kesadaran untuk memilah sampah dapat menjadi cerminan sejauh mana seseorang memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.

Ketika seseorang terbiasa memperhatikan jenis sampah yang dihasilkan, kemudian menentukan cara membuang atau mengelolanya dengan tepat, secara tidak langsung ia sedang melatih kepekaan terhadap perilakunya sendiri dan dampaknya terhadap lingkungan.

MEMILAH SAMPAH DAN EMPATI SOSIAL

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Persoalan sampah tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial. Banyak pihak yang terlibat dan merasakan dampaknya, mulai dari anggota keluarga, tetangga, hingga petugas kebersihan.

Penelitian berjudul I Can Feel Your Pain menunjukkan bahwa tindakan peduli lingkungan dapat mendorong munculnya empati. Ketika seseorang melakukan aksi untuk menjaga lingkungan, seperti menangani atau memilah sampah, ia cenderung membayangkan orang lain maupun makhluk hidup yang dapat terdampak oleh kerusakan lingkungan.

Dari sinilah empati dapat berkembang menjadi rasa tanggung jawab moral. Ketika seseorang mampu memahami dan merasakan dampak buruk dari sampah terhadap orang lain atau makhluk hidup, ia akan lebih terdorong untuk melakukan tindakan yang ramah lingkungan.

Salah satunya dengan membiasakan diri memilah sampah.

Dengan demikian, kebiasaan memilah sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan. Kebiasaan sederhana tersebut juga dapat menunjukkan bagaimana seseorang memperhatikan perilakunya sendiri sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Jadi, jangan anggap remeh kebiasaan memilah sampah. Aktivitas sederhana ini bukan hanya bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses melatih self-awareness dan empati dalam kehidupan sehari-hari. (*)

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

MELATIH DIRI MENJADI MANUSIA YANG BERPERILAKU EMPATI

Memilah sampah mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil. Namun, di balik tindakan tersebut ada proses untuk menyadari bahwa apa yang kita lakukan tidak hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain dan lingkungan di sekitar kita.

Ketika seseorang memilih untuk memilah sampah, ia sedang belajar mempertimbangkan apa yang terjadi setelah sampah tersebut dibuang. Ada petugas kebersihan yang akan menanganinya, ada lingkungan yang dapat terdampak, serta ada orang lain yang kehidupannya dapat terganggu ketika sampah tidak dikelola dengan baik.

Kesadaran untuk memikirkan dampak tersebut merupakan bagian dari perilaku empati. Empati tidak hanya berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga mendorong seseorang untuk bertindak dengan mempertimbangkan kebaikan dan kemaslahatan orang lain.

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk melatih diri menjadi manusia yang lebih peka, peduli, dan berperilaku empati dalam kehidupan sehari-hari.

SALING MENOLONG DALAM KEBAIKAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

QS. Al-Ma’idah [5]: 2.

Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan tidak hanya dilakukan untuk kepentingan diri sendiri. Ada nilai saling membantu dan mempertimbangkan kebaikan dalam kehidupan bersama.

Dalam konteks lingkungan, perilaku tersebut dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Memilah sampah berarti berusaha mengelola apa yang kita hasilkan dengan lebih baik agar tidak menambah beban bagi orang lain dan lingkungan.

Maka, jangan anggap remeh kebiasaan kecil. Memilah sampah bukan hanya tentang membuang sesuatu pada tempat yang tepat, tetapi juga tentang belajar menyadari dampak dari setiap tindakan dan mempertimbangkan keberadaan orang lain.

Dari kebiasaan sederhana itu, kita dapat melatih self-awareness sekaligus menumbuhkan empati, sehingga perlahan membentuk diri menjadi manusia yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli terhadap sesama dan lingkungan.

CATATAN REDAKSI

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter dan budaya yang lebih peduli terhadap lingkungan. Memilah sampah menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN

UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.

Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.

Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement