JAKARTA, UBN NEWSROOM — Senin, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 21 September 2026 M.
Pengalaman menghadapi keterbatasan fasilitas medis di tengah konflik Gaza kembali disampaikan dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B-ET. Dalam episode “Kantin Masjid” DMI TV yang tayang 21 September 2026, dokter spesialis bedah tersebut membagikan kesaksiannya selama menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, termasuk pengalaman menangani pasien dalam kondisi keterbatasan obat dan perlengkapan medis.
Salah satu pengalaman yang disorot dalam tayangan tersebut adalah ketika dr. Iqbal menceritakan pernah melakukan tindakan pembedahan terhadap pasien tanpa dukungan obat bius yang memadai. Kesaksian itu menggambarkan kondisi medis yang dihadapi tenaga kesehatan ketika kebutuhan pasien harus ditangani di tengah keterbatasan sumber daya.
DOKTER IQBAL PERNAH BERTUGAS DI GAZA
Kehadiran dr. Muhammad Iqbal El Mubarak sebagai relawan medis di Gaza terkonfirmasi melalui Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
Pada Agustus 2025, BSMI mengirimkan dr. Iqbal sebagai salah satu anggota Emergency Medical Team (EMT) 4 bersama dr. Annisa Anjani Ramadan, Sp.DV dan dr. Bambang Surif Djamaluddin, Sp.A. BSMI menyebut tim tersebut dikirim untuk melanjutkan misi kemanusiaan dan menangani kebutuhan medis masyarakat Gaza.
Dalam keterangan resmi BSMI, dr. Iqbal ditunjuk sebagai Ketua EMT 4. Ia disebut telah menjalani pelatihan intensif untuk menghadapi medan bencana kemanusiaan yang kompleks.
KETERBATASAN MEDIS DI GAZA
Kisah yang disampaikan dr. Iqbal dalam tayangan DMI TV juga memiliki konteks yang sesuai dengan sejumlah laporan lembaga kesehatan internasional mengenai keterbatasan fasilitas medis di Gaza.
WHO pada Maret 2026 melaporkan bahwa sejumlah obat esensial dan bahan medis di Gaza berada dalam kondisi kekurangan stok. Laporan tersebut juga mencatat rendahnya persediaan obat anestesi, perlengkapan bedah, serta kebutuhan trauma.
Sebelumnya, WHO juga melaporkan bahwa rumah sakit di Gaza menghadapi kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis penting, sementara kapasitas rumah sakit berada dalam tekanan berat.
OPERASI DAN PERAWATAN DI TENGAH KRISIS
Misi BSMI di Gaza tidak hanya berkaitan dengan pelayanan umum. Dalam pemberangkatan EMT 4, BSMI secara khusus menyebut kebutuhan penyembuhan luka dan penanganan malnutrisi sebagai salah satu fokus utama tim medis.
Pada misi EMT sebelumnya, tim BSMI menangani berbagai kasus, termasuk 116 tindakan operasi, 63 perawatan luka, 49 pasien IGD, 8 pasien ICU, serta puluhan pasien anak, perempuan, lansia dan pasien amputasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tenaga medis yang bertugas di Gaza menghadapi kebutuhan pelayanan yang sangat kompleks, mulai dari trauma akibat konflik hingga kebutuhan perawatan lanjutan.
PENGALAMAN DI MEDAN BENCANA
Dr. Iqbal bukan hanya memiliki pengalaman di Gaza. Pada April 2026, ia juga terlibat langsung dalam penanganan korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Dalam peristiwa tersebut, dr. Iqbal bersama tim medis melakukan tindakan sedasi terhadap lima korban yang terjepit material kereta agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan lebih aman dan mengurangi rasa sakit. Ia menggunakan fentanyl dan midazolam dalam tindakan tersebut.
Pengalaman menghadapi situasi darurat di berbagai lokasi, termasuk Gaza, Myanmar, Turki, dan sejumlah wilayah bencana di Indonesia, menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan dr. Iqbal.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
KETIKA ILMU BERHADAPAN DENGAN KETERBATASAN
Kesaksian para tenaga medis di wilayah konflik memperlihatkan bahwa ilmu kedokteran tidak selalu bekerja dalam kondisi ideal. Di medan bencana, dokter dapat berhadapan dengan keterbatasan obat, alat, tenaga, waktu, dan fasilitas.
Namun, kondisi tersebut juga menegaskan pentingnya kompetensi, kesiapan, serta kemampuan mengambil keputusan secara profesional dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
AMANAH KEMANUSIAAN
Dalam Islam, kemampuan dan ilmu merupakan amanah. Ketika seorang tenaga kesehatan menggunakan ilmunya untuk menyelamatkan kehidupan manusia dalam situasi yang sulit, nilai pengabdian tidak hanya terlihat dari hasil akhirnya, tetapi juga dari kesungguhan menjalankan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 32)
Dalam konteks misi kemanusiaan, pengalaman para dokter menjadi pengingat bahwa ilmu yang dimiliki manusia pada akhirnya memiliki tanggung jawab sosial: digunakan untuk menjaga kehidupan, meringankan penderitaan, dan memberikan pertolongan ketika manusia berada dalam keadaan paling rentan.
CATATAN REDAKSI
Kesaksian mengenai pengalaman melakukan pembedahan tanpa obat bius dalam artikel ini bersumber dari pernyataan dr. Muhammad Iqbal El Mubarak dalam tayangan “Kantin Masjid” DMI TV pada 21 September 2026.
UBN Newsroom belum menemukan keterangan tertulis dari BSMI yang secara khusus memuat detail tindakan pembedahan tanpa obat bius tersebut. Karena itu, bagian tersebut disajikan sebagai kesaksian pribadi dalam tayangan, bukan sebagai klaim yang diverifikasi secara independen oleh BSMI atau WHO.
Sementara itu, keberadaan dr. Iqbal sebagai dokter spesialis bedah dalam misi kemanusiaan Gaza pada 2025 telah dikonfirmasi melalui keterangan resmi BSMI dan laporan ANTARA.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment