JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 22 Rabiul Awal 1448 H / 4 September 2026 M.
Wakaf, ihsan dalam pengabdian, dan kaderisasi menjadi tiga fondasi penting yang menjaga keberlangsungan sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor hingga memasuki usia 100 tahun. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam acara Sajid Friday Morning Talk di AQL Islamic Center, Jakarta.
Menurut Prof. Hamid, perjalanan Gontor selama satu abad tidak dapat dilepaskan dari sistem yang sejak awal dibangun untuk kepentingan umat. Sistem tersebut tidak hanya mempertahankan keberadaan lembaga secara kelembagaan, tetapi juga memastikan nilai dan ruh perjuangan para pendiri dapat diteruskan lintas generasi.

Wakaf yang Lebih dari Sekadar Aset
Wakaf menjadi salah satu fondasi utama dalam sistem Gontor. Para pendiri mewakafkan pondok bukan untuk menjadi kepemilikan keluarga, melainkan agar keberadaannya terus memberikan manfaat bagi umat. Karena itu, yang diwariskan para pendiri bukan hanya tanah dan aset kelembagaan.
“Yang diwariskan bukan hanya aset, tetapi nilai dan sistem yang terus hidup,” kata Prof. Hamid.
Konsep tersebut bahkan mencakup keberlanjutan pengabdian keluarga pendiri. Menurutnya, sebagian keturunan para pendiri memilih untuk meneruskan perjuangan di dalam sistem yang telah dibangun.
Dengan demikian, wakaf dalam pengalaman Gontor tidak berhenti pada penyerahan kepemilikan harta. Wakaf juga menjadi sarana menjaga kesinambungan perjuangan dan nilai pendidikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ihsan dalam Pengabdian Guru
Prinsip wakaf juga diterapkan dalam cara Gontor memandang hubungan antara pendidikan santri dan pengabdian guru. Biaya yang dibayarkan santri diarahkan untuk kebutuhan santri, sementara kesejahteraan dan pengabdian guru ditopang melalui sistem wakaf.
“SPP-nya santri adalah untuk santri,” jelas Prof. Hamid.
Dalam kerangka tersebut, wakaf tidak ditempatkan sebagai sumber beasiswa bagi santri, melainkan sebagai bentuk ihsan kepada para guru.
“Wakaf tidak untuk memberi beasiswa ke santri, tetapi untuk memberi ihsan kepada para guru,” tuturnya.
Konsep ihsan tersebut membuat pengabdian guru tidak semata-mata dilihat sebagai hubungan kerja. Pengabdian ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan dan proses pendidikan itu sendiri.
“Di sini gaji itu namanya ihsan,” kata Prof. Hamid.
Karena itu, aktivitas pendidikan di Gontor juga dibangun dengan orientasi ibadah.
“Segala ini adalah ibadah. Niatnya adalah ibadah,” ujarnya.

Kaderisasi Menjaga Ruh Pendidikan
Selain wakaf dan pengabdian, kaderisasi menjadi unsur penting dalam menjaga keberlangsungan sistem Gontor. Kader dibutuhkan agar nilai dan sistem yang dibangun para pendiri tidak berhenti pada satu generasi.
Peran tersebut kemudian dilanjutkan para alumni. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari jaringan lulusan, tetapi juga membawa nilai pendidikan Gontor dengan mendirikan dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan di tengah masyarakat.
Melalui proses tersebut, sistem yang dibangun di Gontor dapat berkembang di berbagai tempat tanpa kehilangan nilai dasarnya. Keberlanjutan sebuah lembaga akhirnya tidak hanya diukur dari panjangnya usia, tetapi dari kemampuan nilai dan sistemnya untuk terus hidup dan melahirkan generasi penerus.
Perspektif UBN Newsroom | Menjaga Amanah Pendidikan Lintas Generasi
Dalam perspektif Islam, keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan aset atau panjangnya usia institusi. Yang lebih mendasar adalah bagaimana amanah pendidikan dijaga, nilai-nilai kebaikan diwariskan, dan setiap generasi mampu melanjutkan perjuangan dengan niat yang benar.
Konsep wakaf menunjukkan bahwa harta dapat ditempatkan sebagai sarana menghadirkan kemanfaatan yang terus mengalir. Ketika wakaf tidak berhenti pada kepemilikan aset, tetapi diarahkan untuk membangun sistem pendidikan dan mendukung keberlangsungan pengabdian para pendidik, maka manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi yang terus berganti.
Hal ini sejalan dengan prinsip amanah yang ditegaskan Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهُ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. An-Nisa [4]: 58)
Ayat tersebut memberikan landasan bahwa amanah harus ditunaikan dengan benar. Dalam konteks pendidikan, amanah bukan hanya berkaitan dengan pengelolaan harta, tetapi juga menjaga ilmu, membentuk karakter, mendidik generasi, serta memastikan nilai yang baik tidak terputus ketika satu generasi telah selesai menjalankan perannya.
Karena itu, ihsan dalam pengabdian memiliki posisi penting. Ketika seorang guru memandang pendidikan bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT, maka orientasinya tidak berhenti pada imbalan material. Pengabdian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun manusia dan menanamkan nilai yang manfaatnya dapat melampaui masa hidup seorang pendidik.
Pada saat yang sama, kaderisasi menjadi mekanisme yang menjaga keberlanjutan nilai tersebut. Aset dapat diwariskan, tetapi tanpa kader yang memahami visi, nilai, dan sistem yang dibangun, sebuah lembaga dapat kehilangan ruhnya. Kaderisasi memastikan bahwa generasi berikutnya tidak sekadar meneruskan nama sebuah lembaga, tetapi memahami amanah dan nilai yang menjadi fondasinya.
Dari sini, perjalanan 100 tahun Gontor dapat dilihat bukan hanya sebagai pencapaian usia sebuah lembaga pendidikan, tetapi sebagai gambaran tentang pentingnya membangun sistem yang mampu bertahan lintas generasi. Wakaf menjadi salah satu fondasi keberlanjutan, ihsan menghidupkan pengabdian, sementara kaderisasi menjaga agar nilai dan sistem tetap berjalan.
Pada akhirnya, pendidikan yang berumur panjang bukan hanya pendidikan yang berhasil mempertahankan institusinya, tetapi pendidikan yang mampu mewariskan ilmu, adab, nilai, dan semangat pengabdian kepada generasi berikutnya. Di situlah keberlanjutan pendidikan menemukan maknanya: bukan sekadar bertahan selama satu abad, tetapi terus menghadirkan kemanfaatan bagi umat dari generasi ke generasi.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment