JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 22 Rabiul Awal 1448 H / 4 September 2026 M.
Pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor tidak berhenti ketika pelajaran di ruang kelas selesai. Sistem pendidikan yang dijalankan berlangsung selama 24 jam dengan menjadikan asrama, organisasi, kegiatan, hingga kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari proses pendidikan.
Pembahasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam acara Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan oleh SAJID di AQL Islamic Center, Jakarta. Dalam forum tersebut, KH. Bachtiar Nasir selaku Ketua Umum SAJID dan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, turut hadir dalam pembahasan mengenai sistem pendidikan pesantren yang memadukan ilmu dan kehidupa.

Ilmu, Iman, dan Amal dalam Satu Sistem
Dalam pandangan Islam, ilmu tidak dapat dipisahkan dari ibadah dan amal. Pendidikan semestinya menyatukan tiga unsur tersebut sehingga peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga iman dan kemampuan mengamalkan ilmunya.
Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam pendidikan yang holistik. Gontor tidak hanya memberikan pelajaran akademik, tetapi juga membentuk manusia melalui lingkungan kehidupan pesantren.
Sistem pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dalam pendidikan umum cenderung terpisah, di pesantren menyatu dalam satu lingkungan. Kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler juga berlangsung dalam kehidupan santri selama 24 jam.
Asrama Menjadi Bagian dari Pendidikan
Asrama tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi lingkungan pendidikan. Di dalamnya terdapat ustaz, kakak kelas, teman sebaya, kegiatan jamaah, taushiyah, pembelajaran bahasa, kebersihan, kedisiplinan, hingga berbagai aktivitas organisasi.
Santri juga dilatih mengurus kehidupan mereka sendiri. Membersihkan asrama, menjaga kedisiplinan, mengatur kegiatan, hingga menegur teman yang melakukan pelanggaran menjadi pengalaman yang membentuk tanggung jawab dan kepemimpinan.
Pendidikan seperti ini membuat santri tidak hanya menerima teori, tetapi belajar melalui pengalaman langsung. Organisasi pelajar menjadi ruang untuk melatih leadership, accountability, kerja sama, hingga entrepreneurship.

Belajar Memimpin dan Mandiri
Kegiatan organisasi memberikan kesempatan kepada santri untuk memimpin meskipun mereka masih berada di bangku sekolah. Begitu pula pengelolaan unit usaha santri yang memberi pengalaman mengenai pengelolaan logistik, biaya, keuntungan, hingga pertanggungjawaban.
Muhadharah atau latihan pidato juga menjadi bagian dari pendidikan. Santri dilatih berulang kali untuk berbicara sehingga memiliki kemampuan mengartikulasikan gagasan ketika kelak terjun ke masyarakat.
Olahraga pun tidak sekadar menjadi hiburan. Berbagai kegiatan seperti voli, basket, sepak bola, badminton, dan taekwondo menjadi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat sekaligus belajar berkolaborasi.
Pendidikan Lebih dari Sekadar Pengajaran
Para pendiri pondok menempatkan pendidikan lebih tinggi daripada sekadar pengajaran. Prinsip al-adabu qablal ilmi “adab sebelum ilmu” menjadi salah satu nilai yang dijaga.
Ilmu yang tidak didasari akhlak dinilai tidak memiliki manfaat yang sempurna. Karena itu, hubungan santri dengan guru, kehidupan bersama, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan.
Dengan sistem tersebut, pendidikan Gontor berusaha membentuk manusia secara utuh: memiliki ilmu, iman, amal, mentalitas, keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kemandirian.
Perspektif UBN Newsroom | Menyatukan Ilmu, Iman, dan Amal
Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan ilmunya untuk kebaikan. Ilmu, iman, dan amal harus berjalan bersama agar pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi membentuk akhlak dan perilaku.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Ayat tersebut menunjukkan kedudukan iman dan ilmu, sekaligus mengingatkan bahwa ilmu memiliki konsekuensi untuk diamalkan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi perlu menghadirkan lingkungan yang membiasakan peserta didik menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan 24 jam, ruang kelas memberikan ilmu, sedangkan kehidupan pesantren menjadi ruang untuk membentuk dan menguji adab, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, serta amal. Pendidikan akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diperoleh, tetapi sejauh mana ilmu tersebut membentuk manusia yang beriman, beradab, dan bermanfaat.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment