HEBRON | UBN Newsroom — Ahad, 17 Rabiul Awal 1448 H / 30 Agustus 2026 M.
Video yang memperlihatkan tindakan tentara Israel terhadap jurnalis di Hebron, Tepi Barat yang diduduki Israel, viral di media sosial pada 29 Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, tentara Israel terlihat mendorong jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan ketika pasukan Israel tengah melakukan pengamanan terhadap tur mingguan pemukim Israel di kawasan tersebut.
Peristiwa tersebut kemudian diwarnai percakapan antara jurnalis dan tentara Israel. Jurnalis mempertanyakan tindakan aparat yang mendorongnya.
“Kenapa mendorongku? Tidak perlu mendorongku.”
Tentara Israel kemudian menjawab, “Makanya kembali.”
Jurnalis kembali mempertanyakan alasan dirinya harus meninggalkan lokasi.
“Kenapa aku harus kembali?”
Tentara menjawab, “Karena aku yang minta.”
Jurnalis kemudian mempertanyakan apakah alasan tersebut sudah cukup.
“Itu tidak cukup?”
Dalam rekaman berikutnya, tentara Israel tetap terlihat mendorong para jurnalis yang berada di lokasi. Jurnalis kemudian meminta aparat untuk tidak menyentuh telepon miliknya.
“Jangan sentuh ponselku. Apa aku menyentuh ponselmu?”
Insiden tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika jurnalis tengah menjalankan tugas peliputan di wilayah Hebron, salah satu kawasan di Tepi Barat yang terus menjadi titik ketegangan.
Warga Turki Dicegah Masuk Kompleks Al-Aqsa
Dalam peristiwa berbeda, sebuah rekaman video memperlihatkan seorang warga negara Turki dicegah memasuki kawasan Kompleks Masjid Al-Aqsa oleh aparat Israel ketika hendak melaksanakan salat.
Dalam percakapan yang terekam, aparat terlebih dahulu menanyakan asal warga tersebut.
“Dari mana asalmu?”
Warga tersebut menjawab, “Dari Turki.”
Aparat kemudian meminta untuk melihat paspornya. Warga Turki tersebut menunjukkan paspor yang dimilikinya.
Setelah melihat dokumen tersebut, aparat mengatakan bahwa akses pada saat itu tertutup bagi warga Turki.
“Apakah kamu orang Turki?”
“Ya.”
“Kalau begitu, tertutup untuk orang Turki.”
Warga tersebut kemudian menjelaskan bahwa dirinya datang untuk melaksanakan salat.
“Saya mau salat.”
Namun, aparat tetap menolak dan meminta warga tersebut kembali pada waktu salat berikutnya.
Warga itu kemudian menjelaskan bahwa dirinya datang dari Jerman dan memiliki izin masuk.
“Saya datang dari sana untuk salat. Saya punya izin masuk.”
Ia juga mempertanyakan apakah dirinya dapat memasuki kawasan tersebut melalui gerbang lain.
“Bukan dari gerbang ini, apakah bisa lewat gerbang lain?”
Aparat tetap menjawab tidak dan mengisyaratkan agar warga tersebut meninggalkan lokasi.
Diminta Kembali Saat Salat Berikutnya
Dalam rekaman berikutnya, warga Turki tersebut kembali bertemu dengan aparat lain ketika mencoba melanjutkan perjalanannya.
Aparat kembali menanyakan asalnya.
“Dari mana asalmu?”
“Dari Turki.”
Aparat kemudian mengatakan bahwa warga tersebut tidak diperbolehkan masuk pada waktu tersebut dan memintanya kembali saat waktu salat berikutnya.
“Bukan waktu salat ini. Datanglah di waktu salat berikutnya.”
Warga tersebut kemudian mengatakan bahwa dirinya memiliki visa dan bersedia menunjukkannya.
“Salat Subuh? Saya punya visa, bisa saya tunjukkan.”
Ia kemudian mencoba meminta penjelasan mengenai alasan larangan tersebut.
“Bolehkah saya bertanya apa alasannya? Karena saya datang dari Jerman ke sini.”
Namun, aparat tetap menolak dan kembali meminta warga tersebut pergi serta kembali pada waktu salat berikutnya.
“Sekarang pergilah. Kembalilah di waktu salat berikutnya.”
“Salat Subuh?”
“Salat Subuh.”
Rekaman tersebut menjadi perhatian publik karena memperlihatkan seorang warga Muslim yang menyatakan hendak melaksanakan salat di kawasan Masjid Al-Aqsa, tetapi dicegah memasuki kawasan tersebut berdasarkan kewarganegaraannya pada waktu itu.
Dua Peristiwa di Tengah Ketegangan Palestina
Kedua rekaman tersebut memperlihatkan situasi berbeda di wilayah Palestina. Peristiwa pertama berkaitan dengan jurnalis yang didorong tentara Israel ketika menjalankan tugas peliputan di Hebron, sedangkan peristiwa kedua memperlihatkan warga Turki yang dicegah memasuki Kompleks Masjid Al-Aqsa untuk melaksanakan salat.
Kedua peristiwa tersebut kembali menjadi perhatian publik internasional dan memperlihatkan bagaimana aktivitas jurnalistik serta akses ke tempat ibadah berlangsung di tengah situasi yang masih penuh ketegangan.
Perspektif UBN Newsroom | Kebenaran, Kebebasan, dan Hak untuk Beribadah
Dua peristiwa ini mengingatkan bahwa di balik konflik dan ketegangan politik terdapat hak-hak dasar manusia yang harus dihormati: hak untuk menjalankan tugas, menyampaikan informasi, dan beribadah.
Dalam Islam, keadilan bukan hanya berlaku ketika keadaan menguntungkan kita. Keadilan harus tetap ditegakkan bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak kita sukai.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 8)
Ayat ini memberikan prinsip penting dalam menyikapi setiap peristiwa, termasuk konflik Palestina. Kepedulian terhadap saudara-saudara Muslim yang mengalami pembatasan atau tekanan harus tetap disertai sikap adil dan ketelitian dalam menyampaikan informasi.
Bagi pembaca, pelajarannya bukan sekadar ikut marah ketika melihat sebuah video. Di era media sosial, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan apa yang dibagikan benar, memiliki konteks, dan tidak menambahkan informasi yang belum terbukti.
Pada saat yang sama, kebebasan pers dan kebebasan menjalankan ibadah merupakan nilai yang perlu terus diperhatikan. Jurnalis membutuhkan ruang untuk bekerja tanpa intimidasi, sementara umat beragama membutuhkan ruang untuk menjalankan ibadahnya secara aman.
Karena itu, kepedulian terhadap Palestina harus melahirkan dua sikap sekaligus: keberanian untuk peduli dan kedisiplinan untuk memastikan kebenaran.
Sebab membela kebenaran bukan berarti kehilangan ketelitian. Justru semakin besar kepedulian kita, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menyampaikan setiap peristiwa dengan benar, adil, dan bermartabat.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment